Cita Cita Ku Harus Setinggi Langit

Waktu kita masih kecil, sering ditanya apa cita-cita kita? ada yang jawab ingin jadi pilot, ingin jadi ahli nuklir, ingin jadi dokter, dll. Sering kita dengar kalimat gapailah cita-citamu setinggi langit dulu selalu diajarkan waktu TK dan SD, tapi dengan bertambahnya umur, slogan gapailah cita-citamu setinggi langit seakan terlupakan. Semakin banyaknya tugas-tugas kehidupan dan masalah-masalah yang muncul membuat orang lupa akan cita-citanya saat kecil.

Seiring dengan semakin dewasanya kita maka kita menghadapi realitas yang tidak seperti yang kita impikan. hidup penuh dengan kekecewaan,hidup ternyata pahit. Apa akhirnya yang kita lakukan? semakin lama kita mengecilkan cita-cita kita.
Gak banyak orang yang merealisasikan cita-cita saat mereka kecil dan menganggap cita-cita saat kecil menjadi hal yang serius, padahal cita-cita saat kecil adalah keinginan terpolos kita sebelum kenal dengan masalah kehidupan, brarti itu kan keingin kita yang mendasar.

Dulu kita punya cita-cita rumah di Pondok Indah, lama-kelamaan rumah dimanapun boleh. kita mengecilkan cita-cita kita. Mengapa kita sering gagal? Kita gagal karena kita tidak dapat mencapai apa yang kita inginkan. Ingin punya tabungan Rp 10 Milyar ternyata tabungan nol terus, akhirnya kalau punya Rp 2 Milyar saja sudah pensiun.

Bagaimana supaya kita tidak menjadi gagal? kalau kita lihat fokus utama kita adalah tujuan kita atau keinginan kita. itulah masalahnya. bila fokus kita hanya pada apa yang kerjakan, dan kita yakin arahnya benar, maka lama kelamaan kita juga akan mencapai arah yang kita tuju, namun dalam perjalanannya bila kita senantiasa dihantui oleh tujuan atau keinginan kita terus menerus sepanjang perjalanan, maka kita tidak akan sampai pada tujuan kita.

Biodata yang selalu saya tulis saat TK sampai SD, darr dulu saya selalu berfikir klo jadi astronot itu keren, dengan jadi astronot kita bisa liat planet-planet lain, ternyata menggapai cita-cita itu tidak semudah membalikan telapak tangan, butuh pengorbanan, usaha yang sangat-sangat keras walaupun kita gak tau apa yang akan terjadi kedepan, apakah cita-cita yang kita kejar adalah benar cita-cita kita? apa benar yang lagi kita kejar adalah minat kita? Dan apa cita-cita kita akan berguna di waktu kedepan?

Kalau mikirin pertanyaan-pertanyaan yg selalu muncul di otak pasti kita akan berdiri ditempat, takut untuk maju, takut untuk melangkah kedepan dan mengejar cita-cita kita

احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلاَ تَعْجِز
“Bersungguh-sungguhlah mengupayakan apa-apa yang bermanfaat untukmu, memohonlah pertolongan kepada Allah dan janganlah kamu merasa lemah (pesimis).” (HR Muslim)

Saya rasa sebuah cita-cita tetep pantas untuk dikejar apapun itu, masalah berguna atau tidak adalah masalah kesekian yang harus kita bicarakan, bukannya dengan mencapai sesuatu keinginan terbesar kita akan memhasilkan sebuah rasa kepuasam dan kebangga tersendiri?

Maka kita santai saja, tetap fokus pada apa yang kita kerjakan, yaitu apa yang terbaik kita kerjakan. dengan demikian, bukan hal yang mustahil, dengan keyakinan kita, kita mampu bertahan dan berbuat sebaik mungkin, kita akhirnya juga mencapai arah kita.

Oleh karena itu, mindset kita harus senantiasa menjadi orang sukses. tidak masalah kita terhambat sedikit, tapi kita harus yakin bahwa kita benar arahnya, dan yang kita lakukan yang terbaik, maka akan terbetik solusi, dan kesuksesan akan dating menghampiri kita. Kalau kita lihat, begitu banyak orang sukses, begitu banyak orang kaya, hanya kita belum tahu caranya saja. Kekayaan dapat dipelajari, sama dengan kesuksesan. Oleh karena itu, tetaplah pada cita-cita kita, tentukan cita-cita setinggi langit, dan kita akan bahagia dalam mengejarnya.

Cita-cita Terbesar Seorang Muslim

Pertama, menikah
Dalam sebuah hadits diriwayatkan :
Abdullah Ibnu Mas’ud Radliyallaahu ‘anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda pada kami: “Wahai generasi muda, barangsiapa di antara kamu telah mampu berkeluarga hendaknya ia kawin, karena ia dapat menundukkan pandangan dan memelihara kemaluan. Barangsiapa belum mampu hendaknya berpuasa, sebab ia dapat mengendalikanmu.” Muttafaq Alaihi.
Dengan menikah memicu samangat untuk meraih apa yang dicita citakan orang lain, karna dengan menikah kita harus bekerja keras membanting tulang, memeras keringat untuk menghidupi istri dan anak anak yang diamanatkan Allah.

Kedua, Menunaikan Ibadah Haji
Allah SWT berfirman dalam Surah Ali Imran Ayat 97 :
فِيهِ آيَاتٌ بَيِّنَاتٌ مَقَامُ إِبْرَاهِيمَ وَمَنْ دَخَلَهُ كَانَ آمِنًا وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلا وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ (٩٧)

“padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqam Ibrahim; Barangsiapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah dia; mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, Yaitu (bagi) orang yang sanggup Mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), Maka Sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.”

Ketiga, Mati Syahid
Kita bisa mati dengan cara apa apa saja, mati sementara berzina, mati habis mabuk mabukan atau mati dengan perantaraan apa saja tapi bagi seorang muslim mati syahid merupakan cita cita tertinggi.
Rasulullah bersabda,“Barangsiapa memohon kepada Allah mati syahid, maka Ia akan menyampaikannya ke derajat para syuhada’ walaupun ia mati di atas ranjangnya“. (HR. Muslim, no. 1909)
Ketiga cita cita di atas harus di tekadkan secara sunggug sungguh oleh seorang muslim bahwa ia siap dan mampu untuk mewujudkannya, walaupun sampai akhir hayatnya ketiga tiganya atau sebagian tak bisa diwujudkan, namun keinginan untuk nikah, menunaikan ibadah haji serta mati syahid tak bisa di padamkan dari keinginan kita.